Rabu, 13 Juni 2018

Kamis, 29 Ramadhan 1439 H / 14 Juni 2018

Doa Rasulullah SAW di Akhir Ramadhan

“Yaa Allah! Janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau menetapkan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati, bukan puasa yang sia-sia.”

“Seandainya masih ada padaku dosa yang belum Engkau ampuni atau dosa yang menyebabkan aku disiksa karenanya, sehingga terbitnya fajar malam ini atau sehingga berlalunya bulan ini, maka ampunilah semuanya wahai Dzat Yang Paling Pengasih dari semua yang mengasihi.”

“Yaa Allah! Terimalah puasaku dengan se-baik² penerimaan, perkenan, kema’afan, kemurahan, pengampunan & krridhaan-Mu. Sehingga Engkau memenangkan aku dengan segala kebaikan, segala anugerah yang Engkau curahkan di bulan ini.”

“Selamatkanlah aku dari bencana yang mengancam atau dosa yang berterusan. Demikian juga, dengan rahmat-Mu masukkanlah aku ke dalam golongan orang² yang mendapatkan (keutamaan) di Lailatul-Qadar. Malam yang telah Engkau tetapkan lebih baik dari seribu bulan.”

“Semoga perpisahanku dengan bulan Ramadhan ini bukanlah perpisahan untuk selamanya & bukan juga pertemuan terakhirku. Semoga aku dapat kembali bertemu dgn Ramadhan mendatang dalam keadaan penuh harapan & kesejahteraan.”

“Aamiin aamiin Yaa Mujiibas-Saailiin”

Aku akan selalu merindukanmu wahai Ramadhan…
*Periode emas anak2

Anak2 usia 0-6 tahun adalah periode emas. Itu masa2 yang sangat penting. Apakah di momen2 ini perlu pendidikan? Ya iyalah. Sungguh butuh. Anak2 diajarin pipis di kamar mandi (tidak pakai pampers), diajarin makan sendiri, diajarin bertanggung-jawab, diajarin bersosialisasi, diajarin seni, bahkan yg lebih penting lagi diajarin agama, cara shalat, menghafal bacaan shalat, dsbgnya.

Penting.

Apakah PAUD, playgorup, TK itu penting? Ya iyalah, penting.

Tapi jangan bablas, jangan berlebihan. Nyaris semua ahli pendidikan di dunia sepakat, bahwa usia 0-6 tahun adalah masa2 belajar yang menyenangkan, bukan masa2 belajar yang dipaksa, dinilai, diberi angka, dan sungguh terlalu ditest/diuji lulus atau tidak. Tanyakanlah ke orang2 yang paham, pasti jawabannya sama.

Lantas kenapa sekarang malah sebaliknya? Banyak orang tua yang mengotot anak2nya cepat baca, cepat nulis, cepat berhitung? Karena dunia ini kejam. Mereka memang selalu bilang yang terbaik bagi anak2nya, tapi tidak tahu apakah itu sungguh baik atau tidak. Anak2 usia 6 tahun sudah dipaksa kursus siang malam. Sudah dipaksa sekolah pagi sore. Kenapa? Biar masa depannya cerah, bisa berkompetisi, dsbgnya. Tidak ada yang bisa memaksa orang tua kalau mereka mau begitu, terserah, itu anak2 mereka juga.

Tapi dalam sistem yang lebih besar, harus ada peraturan lugas agar semua hal tidak bablas, berlebihan.

Persyaratan ijasah TK untuk masuk SD adalah yang bablas. Catat baik2, tidak semua orang mampu menyekolahkan anak2 mereka di TK. Kita harus melindungi keluarga2 ini. Hei, kalau kalian merasa bisa menyekolahkan anak di Singapore, di Amerika atau kursus di Mars, ketahuilah, 30 juta orang di Indonesia ini penghasilannya hanya 10.000/hari. 30 juta orang jumlahnya. Kalau kita makan di kedai fast food sekali duduk 100.000, maka itu setara 10 hari kerja mereka. Bagaimana mereka ini? Tidak boleh SD karena tidak bisa TK? Aduh, nurani mana yang kejam begitu.

Dan terlepas dari itu, harus diketahui semua orang, pendidikan paling dasar (SD) memang tidak membutuhkan prasyarat apapun. Namanya juga pendidikan paling dasar. Apakah anak2 harus sudah bisa berhitung, menulis dan membaca? Ini keliru sekali, fatal. Saya tahu, bisnis PAUD, TK itu besar nilainya. Saya juga tahu, memang lebih asyik, kalau saya guru SD, kalau semua anak2 sudah bisa baca, tulis dan berhitung saat masuk, tapi jangan lupakan, anak2 usia 0-6 tahun itu memang tidak diciptakan untuk jadi profesor semua. Jangan begitu terlalu melupakan prinsip2 guru yang mulia.

Semua orang boleh punya pendapat. Silahkan. Ini jaman kebebasan. Tapi ingat baik2, bahkan dalam UU Sisdiknas No. 20/2003, bagian Penjelasan Pasal 28 ayat 1 ditulis: Pendidikan anak usia dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan BUKAN merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar. Itu UU, produk hukum tinggi di negeri ini, tidak bisa kita kangkangi begitu saja. Juga silahkan baca peraturan pemerintah, peraturan kementerian soal PAUD, TK, playgroup dsbgnya, jelas sekali ditulis: itu periode bermain2, periode mengenalkan dunia pendidikan dengan menyenangkan. Sama sekali bukan belajar berhitung, menulis, membaca lantas di test ini, di uji ini. Tapi kenapa banyak guru/kepsek/sekolah yang tidak tahu? Maka semoga kalian tahu setelah saya merilis catatan ini. Dan kasih tahu orang lain biar pada tahu. Itu UU sudah 10 tahun, seharusnya sosialisasinya sudah sampai galaksi planet Avatar.

Tapi kenapa orang tua sendiri yang maksa agar anak2nya yg baru usia 4 tahun, 5 tahun bisa membaca, berhitung, menulis? Sekali lagi, dunia ini kejam, dek. Jangankan usia 4-5 tahun, usia 0-6 BULAN saja saking kejamnya, industri susu formula mau merangsek habis2an, jika tidak ada regulasi. Kita selalu bilang: yang terbaik bagi anak2 kita, hingga lupa, boleh jadi si kecil itu menjalaninya sambil tertawa riang karena kita paksa.

Maka, kalau ada SD yang mewajibkan murid2 barunya harus sudah bisa baca, hitung, ditest, dsbgnya, punya ijasah TK+PAUD, dll, maka JANGAN masukkan anak2 kita ke sana. Kita harus cemas sekali dengan pemahaman guru2 di SD itu.
Syarat masuk SD itu hanya satu: cukup umur. Carilah SD dengan guru2 yang cemerlang sekali pemahamannya soal ini, guru2 mulia yang mau repot mengajari anak2 kita membaca, menulis. Mau mengajari anak2 kita, tiada lelah dan mengeluh, bukan guru2 yang malah berseru ketus kepada anak usia 6 tahun: "anak ini kok belum bisa baca sih? sana balik ke TK lagi."

Pilihlah SD dengan guru2 yg tulus. Masih banyak kok guru2 yang hebat itu.

Pun sama, pilihlah PAUD, TK, playgroup yang punya guru2 dengan pemahaman tulus. Tahu posisi dan letaknya. Kalau dia minimal pernah mengambil sarjana pendidikan PAUD, pasti paham sekali hal ini. Bukan TK yang dikit2 iuran wajib, dikit2 jalan2 wajib, dikit2 semuanya uang (sorry buat yang tersinggung, kalau kalian tidak melakukannya kalian pasti tidak akan tersinggung; nah kalau tersinggung memang kuch kuch hota hai deh).

Jangan cemas anak2 kita itu kelak tidak jadi orang karena tidak bisa baca tulis usia 4 tahun. Ketahuilah, orang2 sukses di dunia ini bahkan drop out sekolah formal. 'Pendidikan' itu berbeda dengan 'sekolah'. Pendidikan adalah pendidikan. Pasti pernah menonton film Three Idiots kan? Semua orang terharu nontonnya, pengin jadi Rancho, tapi lupa, saat di dunia nyata, kita ini hanya Silencer yang sibukkkkkkk dengan ukuran material, lantas mudah cemburu serta tidak bahagia ternyata.

Saya menulis buat yang mau mendengarkan saja.

*Tere Liye
Maaf, kini doaku sudah tak seperti dulu

Maaf aku pernah berlebihan mencintaimu
Tapi sekarang aku sudah membiasakan cinta itu

Maaf aku pernah mengejarmu yang terus berlari
Tapi kini aku putuskan hanya melihatmu dari kejauhan

Maaf aku pernah semalaman tidak tidur karena merinduimu
Tapi sekarang aku bisa tidur nyenyak karena aku yakin Allah selalu menjagamu

Maaf aku pernah menunggumu tanpa kepastian
Tapi kini aku lepaskan semua tentangmu kepadaNya

Maaf aku pernah terlalu berjuang untuk kebahagiaan mu
Tapi sekarang aku akan lebih bijak dalam membahagiakan mu dan membahagiakan diriku sendiri

Dan maaf aku yang pernah memaksa tuhan untuk aku bisa memilikimu
Tapi kini yang kuminta hanyalah siapa yang baik agar didekatkan dan yang tidak baik agar dijauhkan

Bukan karena aku menyerah mendapatkan mu
Ini lebih karena aku telah mempercayakan semua takdirku kepadaNya
Aku yakin Dia itu maha baik dan selalu memberikan yang terbaik

Jadi, sekali lagi aku minta maaf

Karena kini
Doaku sudah tak seperti dulu lagi.
belajarlah dari angin , bahwa angin tidak pernah membedakan siapa yang hirup , dia akan memberikan yang terbaik padanya...


Ys
BERSERAH DIRI. Apa sih? Terkesan pasif, lemah dan suram. Kenapa 'Islam', aslama, artinya 'berserah diri'?

Itu dia. Biasanya umat Islam sendiri gamang dalam mengartikan keberserahdirian. Kalau memaknai keberserahdirian dengan 'pasrah bongkokan', diam, fatalis dan menunggu nasib, secara umum ya salah.

Berserah diri itu tergantung berserah diri pada siapa. Berserah diri pada nasib, tentu jadinya diam seperti batu. Berserah diri kepada kehendak Allah, tentu implikasinya kita harus mencari tahu dulu kehendak Allah untuk kita itu apa. Dan 'mencari tahu kehendak-Nya' ini luar biasa melelahkannya, luar biasa sulitnya. Mencari tahu apa kehendak Allah bagi diri kita saat ini, itulah esensi jihad sebenarnya.

Misal, kita sampai di sebuah pasar. Kalau pasrah bongkokan, kita akan diam saja liat kiri kanan, menunggu 'dikasih Allah ta'ala'.

Kalau berserah diri yang benar, kita akan mencermati: dari semua benda yang ada di pasar, apa yang paling Allah kehendaki untuk kita miliki saat itu.

Cek misalnya apa kebutuhan kita saat itu, yang paling dibutuhkan adalah benda apa. Lalu menghitung uang kita, kemudian membandingkan: benda apa yang bisa dibeli dengan uang sekian. Dari sekian alternatif benda yang bisa dibeli, lalu dipilih yang terbaik kualitasnya, yang paling kita sukai. Kalau tidak suka, ya cari yang lain. Kalau ternyata tidak punya uang, ya angkut-angkut barang dulu.

Terus begitu, sampai ketemu. Ini berserah diri yang benar.

Lha, kalo gitu, apa bedanya berserah diri yang kedua itu dengan yang biasa kita lakukan sehari-hari?

Bedanya adalah akadnya. Ada akad di sana. Kepada Allah ta'ala, "Aku terima urusan ini ya Allah, dengan seijin Engkau. Bimbinglah hamba dalam urusan ini agar semakin mendekat pada Engkau." Mengucap 'Bismillah' sebelum berbuat sesuatu, adalah bentuk paling sederhana dari akad semacam ini.

Pada dasarnya, setiap hari, setiap saat, kita menikah dengan berbagai urusan yang dihadirkan-Nya. Yang menjadikan kita halal menggaulinya adalah akad-nya. Tanpa akad, hubungan kita dengan urusan cuma sekedar one-night-stand. Kita cuma berzina dengan kesibukan. Ini malah akan semakin menjauhkan kita dari-Nya.

Nah. Pasar itu ibarat dunia kita sekarang. Kita ditaruh-Nya di dunia yang ini. Bukan kehendak kita, kan? Dunia ini penuh dengan amal, baik amal yang haram dan amal yang baik.

Kita bisa saja diam dan menunggu dikasih. Atau, kita bisa memilih alternatif kedua, Tugas kita adalah mencari amal mana yang paling Allah kehendaki untuk kita. Kita harus mencari lapak yang paling sesuai--dengan disertai akad.

Amal yang terbaik bagi kita, di mata Allah ta'ala, belum tentu tampil berdakwah di podium. Belum tentu shalat tahajud, kalau orang tua sedang sakit, misalnya. Cari, baca situasi. Bisa saja yang paling tepat ternyata menyetrika, atau mengganti popok anak. Tampak kecil, tapi jika kita bisa menghubungkan amal itu dengan kehendak Allah ta'ala--itu anugerah luar biasa.

Guru saya selalu bilang begini. Jika kita punya keinginan tertentu, periksa dengan kemampuan dan kesempatan. Jika kita ingin sesuatu, kemampuan ada, kesempatan ada, klop. Kemungkinan besar, Allah juga menghendaki itu untuk kita. Kalau Allah menghendaki kita berbuat sesuatu, pasti Dia juga sudah menyiapkan sarana dan requirements-nya.

Tapi kalau kita ingin sesuatu, tapi kemampuan nggak ada atau kesempatan nggak ada, itu keinginan hawa nafsu saja. Kemungkinan besar, Allah tidak menghendaki kita mengerjakan itu saat ini.

Semoga manfaat...

*Al-Fatihah untuk Rasulullah, kedua orangtuaku, mursyidku satu2nya

Selasa, 12 Juni 2018

Puncak dari ilmu adalah berdoa kepada Allah swt. - Hamengkubuwono X -

Sabtu, 01 April 2017

Rabu, 11 Mei 2016

Semakin tinggi ilmu seseorang semakin sedikit menyalahkan orang lain

Selasa, 10 Mei 2016

Sahabat sahabat...
Disaat kita memakai jam tangan seharga Rp 500.000,- atau Rp 500.000.000,-, kedua jam itu menunjukkan waktu yg sama.

Ketika kita membawa tas atau dompet seharga Rp 500.000,- atau Rp 500.000.000,-, keduanya sama2 dapat membantumu membawa sebagian barang/uang.

Waktu kita tinggal di rumah seluas 50 m2 atau 5.000 m2, kesepian yg kita alami tetaplah sama.

Ketika kita terbang dengan first class atau ekonomi class, maka saat pesawat terbang jatuh maka kita pun ikut jatuh.

Sahabat sahabat...

Kebahagiaan sejati bukan datang dari harta duniawi.

Jadi ketika kita memiliki pasangan, anak, saudara, teman dekat, teman baru dan lama...

Lalu kita ngobrol, bercanda, tertawa, bernyanyi, bercerita tentang berbagai hal, berbagi suka dan duka- itulah kebahagiaan sesungguhnya.

Hal penting yang patut di renungkan dalam hidup :

1. Jangan mendidik anak mu untuk terobsesi menjadi kaya. Didiklah mereka menjadi bahagia. Sehingga saat mereka tumbuh dewasa mereka menilai segala sesuatu bukan dari harganya.

2. Kata2 yg terbaik di Inggris :
"Makan makananmu sebagai obat. Jika tidak, kamu akan makan obat2an sebagai
makanan."

3. Seseorang yg mencintaimu tidak akan pernah meninggalkanmu karena walaupun ada 100 alasan untuk menyerah, dia akan menemukan 1 alasan untuk bertahan.

4. Banyak sekali perbedaan antara "manusia & menjadi manusia"
Hanya yg bijak yang mengerti tentang itu.

5. Hidup itu antara
"B" birth (lahir) dan "D" death (mati),
diantara nya adalah ada "C" choice (pilihan) hidup yang kita jalani, keberhasilannya ditentukan oleh setiap pilihan kita.

Sahabat sahabat...

Jika kamu mau berjalan cepat, Jalanlah sendirian. Tetapi Jika kamu ingin berjalan jauh, jalanlah bersama-sama.

6. Ada 6 dokter terbaik;
1. Keluarga
2. Istirahat
3. Olah raga
4. Makan yg sehat
5. Teman
6. Tertawa

Mari pelihara semua itu dalam semua tingkatan kehidupan.....😊

Puisi terakhir WS RENDRA

Copas
*Puisi terakhir WS Rendra*
                               
Hidup itu seperti *UAP*,  yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !!
Ketika Orang memuji *MILIKKU*,
aku berkata bahwa ini *HANYA TITIPAN* saja.

Bahwa mobilku adalah titipan-NYA,
Bahwa rumahku adalah titipan-NYA,
Bahwa hartaku adalah titipan-NYA,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA ...

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
*MENGAPA DIA* menitipkannya kepadaku?
*UNTUK APA DIA* menitipkan semuanya kepadaku.

Dan kalau bukan milikku,
apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA?

Malahan ketika diminta kembali,
_kusebut itu_ *MUSIBAH,*
_kusebut itu_ *UJIAN*,
_kusebut itu_ *PETAKA*,
_kusebut itu apa saja ..._
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah *DERITA*....

Ketika aku berdo'a,
kuminta titipan yang cocok dengan
*KEBUTUHAN DUNIAWI*,
_Aku ingin lebih banyak_ *HARTA*,
_Aku ingin lebih banyak_ *MOBIL*,
_Aku ingin lebih banyak_ *RUMAH*,
_Aku ingin lebih banyak_ *POPULARITAS*,

_Dan kutolak_ *SAKIT*,
_Kutolak KEMISKINAN,_
Seolah semua *DERITA* adalah hukuman bagiku.

Seolah *KEADILAN* dan *KASIH-NYA*,
harus berjalan seperti penyelesaian matematika
dan sesuai dengan kehendakku.

Aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,
Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku ...

Betapa curangnya aku,
Kuperlakukan *DIA* seolah _Mitra   Dagang_ ku
dan bukan sebagai *Kekasih!*

Kuminta *DIA* membalas _perlakuan baikku_
dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku ...

_Duh ALLAH ..._

Padahal setiap hari kuucapkan,
_Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU ya ALLAH, AMPUNI AKU, YA ALLAH ..._

Mulai hari ini,
ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur
dalam setiap keadaan
dan menjadi bijaksana,
mau menuruti kehendakMU saja ya ALLAH ...

Sebab aku yakin
*ENGKAU* akan memberikan anugerah dalam hidupku ...
*KEHENDAKMU*  adalah yang ter *BAIK* bagiku ..

Ketika aku ingin hidup *KAYA*,
aku lupa,
bahwa *HIDUP* itu sendiri
adalah sebuah *KEKAYAAN*.

Ketika aku berat utk *MEMBERI*,
aku lupa,
bahwa *SEMUA* yang aku miliki
juga adalah *PEMBERIAN*.

Ketika aku ingin jadi yang *TERKUAT*,
aku lupa,
bahwa dalam *KELEMAHAN*,
Tuhan memberikan aku *KEKUATAN*.

Ketika aku takut *Rugi*,
Aku lupa,
bahwa *HIDUPKU* adalah
sebuah *KEBERUNTUNGAN*,
kerana *AnugerahNYA.*

Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu *BERSYUKUR* kepadaNYA

Bukan karena hari ini *INDAH*
kita *BAHAGIA*.
Tetapi karena kita *BAHAGIA*,
maka hari ini menjadi *INDAH*.

Bukan karena tak ada *RINTANGAN* kita menjadi *OPTIMIS*.
Tetapi karena kita optimis, *RINTANGAN* akan menjadi tak terasa.

Bukan karena *MUDAH* kita *YAKIN BISA*.
Tetapi karena kita *YAKIN BISA*.!
semuanya menjadi *MUDAH*.

Bukan karena semua *BAIK* kita *TERSENYUM*.
Tetapi karena kita *TERSENYUM*, maka semua menjadi *BAIK*,

Tak ada hari yang *MENYULITKAN* kita, kecuali kita *SENDIRI* yang membuat *SULIT*.

Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar,
cukuplah menjadi *JALAN SETAPAK* yang dapat dilalui orang.

Bila kita tidak dapat menjadi matahari,
cukuplah menjadi *LENTERA* yang dapat menerangi sekitar kita.

Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang,
maka *BERDOALAH* untuk kebaikan.
πŸ€πŸŒΏπŸ€πŸŒΏπŸ€πŸŒΏ