Kamis, 10 September 2015

Yeee
Ambulan RS Jiwa terpaksa berhenti di jalan karena ban bocor. Waktu sedang mengganti ban, si supir tidak sengaja menendang 4 baut ke selokan dan hilang. Dengan panik si supir berteriak, "waduh gimana gue mesti pasang ban kalo gak ada bautnya." Salah satu pasien gila dalam ambulan nyelutuk : bang, copotin aja tuh 1 baut dari masing2 tiga roda lainnya trus pasang ke bannya, jadi tiap ban dapat 3 baut. Ntar kalo ada bengkel tinggal beli tuh 4 baut. Si supir langsung lega. Pinter juga loe, tapi kenapa loe bisa masuk RS Jiwa sih ? Pasien itu menjawab : "HELLOOO, pliiis deh....kita ini cuma gila, bukan bego kayak loe !!! 😄😄😁
Seorang ibu ingin meminjam uang kepada anaknya yang telah mapan. Dengan suara rendah disertai rasa malu ibu berkata " Nak, bolehkah ibu meminjam uang 100 ribu? Ibu ada perlu buat beli beras", Anaknya tidak langsung menjawab, dengan raut muka datar ia berkata " Iya Bu, nanti Aku tanya istriku dulu", seakan berat untuk mengiyakan, karena belum tentu isterinya mengiyakan. Ketika Sang Anak masuk ke dalam rumah ia melihat dus susu anaknya masih ada bandrol harga Rp 50.000, kemudian dia merenung. Jika 1 dus habis 1 hari x 30 hari x 2 th = 36 juta. Dia berfikir, waktu balita dia hanya diberikan ASI oleh ibunya, harganya tak terhingga, super steril, diberikan dengan penuh kasih sayang. Jika didapat oleh seorang anak selama 2 tahun berapa yang harus ia bayar? Kemudian ia berbalik dan menatap wajah ibunya yang teduh walau telah dimakan usia. "Dirimu telah memberikan semua kasih sayang, harta dan semuanya kepadaku tanpa pamrih, dan semua itu kuterima dgn GRATIS. Maafkan anakmu yg durhaka ini yang tidak tahu balas budi". Segera ia memeluk ibunya dan mengecup keningnya dan memberi uang Rp 3 jt, sambil menangis ia berkata "Ibu, jangan berkata pinjam lagi ya, hartaku adalah juga milikmu, doakan anakmu ini agar selalu berbakti padamu". Sambil berkaca-kaca ada air bening di pelupuk mata ibu, ia berkata "Nak, di setiap keadaan ibu selalu berdoa agar kita semua selalu dikumpulkan di dunia dan di SURGA nanti dalam kebahagian. Semoga Bermanfaat.(Jangan biarkan bacaan bermakna ini mengendap di WA mu, jadikan ladang pahala dg meberikan ke orang lain. Bagi para ISTRI ingatlah bahwa rezeki dari suamimu adalah jg HAK mertuamu. Dan juga perlakukanlah ibu mertua seperti ibu kandung sendiri.
Selamat pagi dan tetap semangat wahai sahabat PAGAR HATI Motivation Center
Indah sekali saat kita sbg pribadi maupun sbg pengusaha mampu menjawab 4 pertanyaan ;
1. Seberapa dekat Hub kita sama Allah
2. Seberapa dekat Hub dengan orang tua kita
3. Seberapa dekat Hub  dg pasangan dan anak2 kita, dan
4. Seberapa besar keinginan kita utk memberi,?
☝Sejenak Merenung Dengan Kisah 👇

Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam ketika Amin sampai di depan rumahnya. Hari ini ia pulang telat karena ada pekerjaan yang harus ia tuntaskan malam ini juga. Rumahnya tampak sudah sepi dan terkunci rapat. Lampu di ruang tamu juga sudah dimatikan. Pertanda penghuninya sudah istirahat malam. Tidak ingin mengganggu siapapun, Amin turun dari mobil dan segera membuka pintu pagar. Ia selalu membawa kunci pintu pagar dan juga kunci pintu rumah ketika bepergian.

Bunyi pagar berderit ketika didorong. Perlahan ia masukkan kendaraan, dan kembali mengunci pintu pagarnya. Tak lama kemudian ia membuka pintu rumah.

“Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah.

Tak ada orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur.

Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya.

Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja. Setelah itu, barulah  ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas. Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya. Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam wajah Aminah, istrinya.

Amin segera teringat perkataan almarhum kakeknya, dulu sebelum dia menikah. Kakeknya mengatakan, “Jika kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu. Karena kamupun juga tidak sama persis dengan maunya. Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi. Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur.”

“Kenapa Kek, kok waktu dia tidur?” Tanya Amin kala itu.

“Nanti kamu akan tahu sendiri.” Jawab kakeknya singkat.

Waktu itu, Amin tidak sepenuhnya memahami maksud kakeknya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena kakeknya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.

Malam ini, ia baru mulai memahaminya. Malam ini, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu. Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Dalam batin, dia bergumam, “Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa beraktifitas, banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Aku yang menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu dengan banyak aturan. Dan aku pula yang menjadikanmu seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.

Wahai istriku, engkau yang dulu bisa melenggang ke manapun tanpa beban, aku yang memberikan beban di tanganmu, dipundakmu, untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara rumahku.

Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku, kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku, kau buang egomu untuk mentaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.

Wahai istriku, dikala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau tegar di sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Bila gundah, kau penyejuk hatiku. Kala bimbang, kau penguat tekadku. Jika lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika salah, kau yang menasehatiku.

Wahai istriku, telah sekian lama engkau mendampingiku, kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki.

Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu? Dengan alasan apa aku perlu marah padamu? Andai kau punya kesalahan atau kekurangan, semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata. Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu, jika kau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena kau insan, bukan malaikat.

Maafkan aku istriku, kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumahtangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhaan Allah swt. Segala puji hanya untuk Allah swt yang telah memberikanmu sebagai jodohku.

Tanpa terasa airmata Amin menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis. Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian iapun terlelap.

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali. Aminah, istri Amin, terperanjat kaget.

“Astaghfirullaah,  sudah jam dua?”

Dilihatnya sang suami telah pulas di sampingnya. Pelan-pelan ia duduk, sambil memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.

“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatangannya. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia?” gumamnya dalam hati.

Mau dibangunkan nggak tega, akhirnya cuma dipandangi saja. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya hatinya yang bicara.

“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.

Wahai suamiku, ketika aku sendiri kau datang menghampiriku. Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku. Dalam duka, kau sediakan dadamu untuk merengkuhku. Dengan segala kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku.

Wahai suamiku, tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku. Tidak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu. Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.

Lalu, atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu, dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu? Seberapapun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu. Jika kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, tapi kesungguhanmu beramal shaleh membanggakanku. Tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah membahagiakanku.

Maafkan aku wahai suamiku, akupun akan memaafkan kesalahanmu. Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk menaati Allah swt. Aku akan patuh kepadamu untuk memjemput ridlo-Nya.

Teng…teng…teng… jam dinding di ruang tengah kembali berdentang. Kali ini berdentang tiga kali.

“Sudah jam tiga.” Gumam Aminah.

Dihapusnya airmata di pipi. Perlahan, dielus tangan suaminya sambil berbisik, “Mas, sudah jam tiga, bangun yuk, kita shalat.”

Di penghujung malam itu, dua insan -Amin dan Aminah-, dengan melawan letih dan kantuk berusaha untuk memenuhi panggilan Allah, “Wahai orang yang berselimut, bangunlah (untuk sholat) pada malam hari, kecuali sedikit (daripadanya).” (al-Muzammil: 1-2)
Sahabat Quran
Setiap hari kita pake WA ini. Bersilahturahmi, Sharing,
bercanda dsb
Tapi tau kah Sahabat2 Hilpi, siapa sesungguhnya penemu WA?

KISAH INSPIRATIF,
PENEMU PROGRAM WA

Ia lahir & besar di Ukraina dari keluarga yang relatif miskin. Di usia 16 tahun, ia nekat pindah ke Amerika, demi mengejar apa yang dikenal sebagai “American Dream”.

Pada usia ke-17, ia hanya bisa makan dari jatah pemerintah, nyaris menjadi gelandangan. Tidur beratap langit, beralaskan tanah. Untuk bertahan hidup, dia bekerja sebagai tukang bersih2 supermarket.

Hidupnya kian terjal saat ibunya didiagnosa kanker. Mereka bertahan hidup hanya dengan tunjangan kesehatan seadanya. Ia lalu kuliah di San Jose University. Tapi kemudian memilih drop-out, karena lebih suka belajar programming secara autodidak.

Karena keahliannya sebagai programmer, pemuda tsb diterima bekerja sebagai engineer di Yahoo! Ia bekerja di sana selama 10 thn. Di situ, ia berteman akrab dengan Brian Acton. Keduanya membuat sebuah program aplikasi di tahun 2009, setelah resign dari Yahoo!

Keduanya sempat melamar ke Facebook yang tengah menanjak popularitasnya saat itu, namun diitolak.

Facebook mungkin kini sangat menyesal pernah menolak lamaran mereka karena setelah beberapa tahun, program aplikasi mereka justru resmi dibeli Facebook dengan harga fantastis USD 19Miliar (sekitar Rp 247 Triliun).

Pemuda itu bernama
"Jan Koum "
 pendiri "WhatsApp"
yang fenomenal dan sedang kita nikmati saat ini.

Beberapa waktu lalu, Jan Koum melakukan ritual yang mengharukan. Ia datang ke tempat dimana ia dulu saat berumur 17 thn, setiap pagi antri untuk mendapatkan jatah makanan dari pemerintah. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding tempat ia dulu antri. Mengenang saat-saat sulit, dimana bahkan untuk makan saja ia tidak punya uang..

Pelan2, air matanya meleleh. Ia tidak pernah menyangka perusahaannya dibeli dengan nilai setinggi itu. Ia pun mengenang ibunya yang rela menjahit baju buat dia demi menghemat. “Tak ada uang, Nak…”. Ia menyesal tak pernah bisa mengabarkan berita bahagia ini kepada ibunya.
***

Teruslah BERMIMPI,
Teruslah BELAJAR,
Teruslah BERUSAHA..
Teruslah BERDOA.

Sungguh kita tak pernah tahu warna dan rupa masa depan kita.

👍 Tetap samangat,
Slamat Pagiiii Semuanya,semoga Hari ini kita Menjalankan Aktifitas mendapatkan Banyak keberkahan...Aamiinn
Indahkan hari dengan mengindahkan pagi | indahkan pagi dengan mengindahkan hati | indahkan hati dengan berbagi | awali pagi dengan nutrisi sarapan hati berupa menu kesyukuran

Pagar Hati motivation center

Kamis, 14 November 2013

DetikDetik Kepergian Rasulullah.mp4

http://www.youtube.com/v/Toy7yDeIrY4?version=3&autohide=1&showinfo=1&attribution_tag=I5f3yda_-8eBySsQUtzFmw&autohide=1&autoplay=1&feature=share

Minggu, 27 Mei 2012

TUGAS PENULISAN PROPOSAL BISNIS


Tugas pembuatan proposal bisnis ini merupakan tugas individu Mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia Ekstensi, Semester 8 (Reguler pagi dan Sore) serta Prodi DKV semester 8 Reguler pagi dan sore serta Mahasiswa semester 6 sore yang akan di presentasikan dalam ruang kelasnya masing-masing. Maksimal pengumpulan tugas
1. Mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia Ekstensi  Minggu, 3 Juni 2012
2. Mahasiswa Prodi bahasa Indonesia Reguler pagi dan sore Minggu, 10 Juni 2012
3. Mahasiswa Prodi DKV Minggu, 10 Juni 2012


KETENTUAN
Proposal ide bisnis yang diajukan diperbolehkan dalam bidang apapun, baik teknologi, jasa, industri kreatif, agribisnis maupun kuliner atau dalam bidang lainnya

Naskah Business Plan ini harus ditulis sesuai dengan sistematika format penulisan. Naskah penulisan hasil Inovasi dan Kreasi tersebut harus diketik rapi pada:
1. kertas A4 
2. Margin Kiri = 4 cm, margin kanan, atas dan bawah = 3 cm
3. Huruf Calibri 12
4. Dengan jarak 2 spasi
5. Nomor Halaman Kanan Bawah
6. Proposal bisnis dibuat minimal 10 halaman dan maksimal 20 halaman
7. Proposal bisnis tersebut di perbanyak sesuai dengan jumlah mahasiswa dalam satu kelasnya

SISTEMATIKA PENULISAN BUSINESS PLAN
Cover Halaman
kata Pengantar
Daftar Isi

Bab 1.   Ringkasan Eksekutif
             1.1  Latar  belakang Bisnis anda
             1.2  Tentang Bisnis anda
             1.3  Produk/Jasa dan kompetisi 
                   (menjelaskan secara singkat produk/jasa yang ditawarkan

Bab 2.   Identitas Perusahaan
             2.1  Data Perusahaan 
                   (nama usaha, Jenis usaha, alamat,No. telepon,  tahun berdiri, visi misi)
             2.2  Biodata Pemilik / Pengurus
             2.3  Struktur Organisasi
             2.4  Susunan Pemilik / Pemegang Saham

Bab 3.  Analisis Pasar Dan Pemasaran
            3.1  Produk / Jasa Yang Dihasilkan
            3.2  Gambaran Pasar
            3.3  Target Atau Segmen Pasar Yang Dituju
            3.4  Trend Perkembangan Pasar
            3.5  Proyeksi Penjualan
            3.6  Strategi Pemasaran
            3.7  Analisis Pesaing dengan SWOT
            3.8  Saluran Distribusi

Bab 4.  Analisis Produksi
            4.1  Proses Produksi
            4.2  Bahan Baku Dan Penggunaannya
            4.3  Kapasitas Produksi
            4.4  Rencana Pengembangan Produksi

Bab 5.  Analisis Sumberdaya Manusia (SDM)
            5.1  Analisis Kompetensi SDM
            5.2  Analisis Kebutuhan Dan Pengembangan Sdm
            5.3  Rencana Kebutuhan Pengembangan Sdm

Bab 6.  Rencana Pengembangan Usaha
            6.1  Rencana Pengembangan Usaha
            6.2  Tahap-Tahap Pengembangan Usaha

Bab 7.   Perencanaan Keuangan
            7.1  Biaya Awal
            7.2  Rencana Kebutuhan Investasi
            7.3  Jelaskan Jumlah Modal yang dibutuhkan
            7.4  Analisa kelayakan investasi
            7.5 Jelaskan secara singkat penggunaan modal anda

Bab 8.  Analisis Dampak dan Resiko Usaha
            8.1  Dampak Terhadap Masyarakat Sekitar
            8.2  Dampak Terhadap Lingkungan
            8.3  Analisis Resiko Usaha
            8.4  Antisipasi Resiko Usaha
Lampiran
Analisis Lingkungan Bisnis
Proses Produksi
Sampul/Kulit Muka Business Plan.
Sampul/kulit muka business plan bebas sesuai kreasi.
Hal pertama setelah sampul mengikuti format seperti ini.



Jakarta, 27 Mei 2012
Dosen Pengampu,


Yayan Sudrajat, SE., M.Pd.